Kucing merupakan
hewan pemburu yang sering berkeliaran di sekitar rumah. Pada sebagian orang
kucing sering digunakan sebagai hewan peliharaan. Ciri-ciri kucing yang
tentu saja membedakannya dengan binatang lain adalah suaranya, dengan suaranya
yang “Meong” tersebut kita sudah dapat mengetahui bahwa itu adalah
kucing. Ia dapat mencium bau dalam jarak beberapa ratus meter dan ia
memiliki daun telinga yang tegak.Ketika kucing marah atau takut pada saat
itulah telinganya akan tertekuk ke belakang (Seperti terlipat) sambil
mengeluarkan suara meggeram. Kucing dapat berlari sangat cepat. Ketika
berlari, kadang ia suka terjatuh dari atap. Meskipun demikian, kucing
masih tetap hidup dan sehat.
Kucing memiliki otot
yang sangat kuat, kekuatan inilah yang membantunya melompat dan berlari. Kucing
juga dapat membuat gerakan berputar di udara saat jatuh dari ketinggian. Kucing
pun mampu mengatur posisi tubuhnya agar mendarat dengan keempat kakinya. Kucing
juga dapat mendengar bunyi ultrasonik. Kucing memiliki mata yang tajam,
khususnya pada malam hari. Nah, berbagai keistimewaan tersebutlah yang dapat
membantu kucing dalam berburu. Kucing juga termasuk hewan yang rajin merawat
diri, cara kucing membersihkan tubuhnya yang paling sering dilihat adalah
dengan menjilati bulu-bulunya.
Dahulu
kala, kucing dan tikus bersahabat. Mereka hidup serumah. Kemanapun kucing pergi
si tikus ikut serta.Begitu pula bila si tikus berjalan-jalan maka si
kucing selalu menjaganya. Si kucing menjadi pelindung si tikus yang bertubuh
kecil. Setiap ada hewan yang
akan mengganggu si tikus maka si kucing akan membelanya. Dan sebagai tanda
eratnya persahabatan mereka, si kucing memberi julukan si tikus dengan namanya,
yaitu SI MEONG dan sebaliknya si kucing diberi nama SI MOUSE disingkat
SI PUS.
Dalam pergaulan mereka selalu bersama-sama, begitu pula dalam hal pembagian makanan. Setiap ada makanan mereka senantiasa membagi sama rata.
Suatu malam, si tikus merasa perutnya lapar. Ia ingin mengajak si kucing untuk mencari makanan. Namun, si tikus kecewa sebab si kucing telah tidur pulas. Ia tidak ingin membangunkannya. Maka si tikus pergi sendirian mencari makanan. Ia berjalan kemana saja. Ia berharap bisa mendapatkan sepotong makanan untuk mengisi perutnya yang lapar.
"Aduuh, kemana lagi aku harus mencari makanan?" kata si tikus. "Hampir sepanjang jalan yang kulalui tidak kutemui sepotong makanan pun....huu..huu..huuuuu."
Si tikus semakin bersedih. Perutnya semakin terasa lapar. Namun ia tidak berputus asa. Dia terus berusaha mendapatkan makanan.
Sejurus kemudian, tiba-tiba si tikus berteriak kegirangan. Dia melihat sepotong daging tergeletak di perempatan jalan.
"Horee...akhirnya aku mendapatkan makanan!" teriak si tikus kegirangan.
"Wah besar sekali ukurannya, bisa untuk jatah makan selama seminggu, nih."
Kemudian ia cepat-cepat menyeret daging itu dan membawanya pulang. Meskipun dengan susah payah, namun si tikus melakukannya dengan penuh gembira. Sehingga rasa capek, lelah dan lapar tidak dirasakannya lagi. Sepanjang jalan ia bernyanyi-nyanyi sambil menyeret sepotong daging.
"Hoiii....Pus...ayo kemari....ada kabar gembira !" teriak si tikus ketika sampai di depan rumahnya. "Hoii...Puuss ...bangun...ada kabar gembira, nih!"
Si kucing terkejut mendengar teriakan si tikus. Ia segera menghampiri temannya.
"Wow...sepotong daging segar...mantab," pikir si kucing. "Kebetulan sudah sebulan aku tidak makan daging. Sekarang aku akan menikmati kelezatannya," pikir si kucing mulai timbul rasa serakahnya.
"Wah...daging segar...terima kasih sahabatku," kata si kucing
"Lho...lho...lho...apa maksudmu dengan ucapan terima kasih itu, Pus?" tanya si tikus.
"Ah tidak...maksudku...terimakasih kamu telah mendapatkan sepotong daging untuk kita makan berdua khan?"
"Iya...kan perjanjian kita seperti itu. Apapun makanan yang kita dapatkan harus kita bagi rata. Benar, khan?" kata si tikus.
"Iya ya...," jawab si kucing sambil terus memperhatikan sepotong daging segar di hadapannya.
"Okey kalau begitu mari kita bagi sama rata ya. Ayo berikan daging itu, Meong...biar aku yang bertugas membaginya."
Kemudian si tikus memberikan daging yang dibawanya kepada si kucing. Dan si kucing berusaha memotong daging di hadapannya sama rata. Setelah daging terpotong menjadi dua, lalu si kucing dan si tikus memperhatikan ukuran dagingnya.
"Wah...ternyata daging bagianmu terlalu besar, Tikus," kata si kucing. "Harus dipotong sedikit nih agar bagian kita sama besar."
Kemudian si kucing memotong daging milik si tikus agar potongan dagingnya sama besar. Namun si kucing bertindak curang, ternyata potongan sisa daging yang dipotongnya tidak ditambahkan ke potongan daging miliknya, namun potongan daging itu langsung dimakannya.
"Waduh...kini daging bagianku yang kelihatannya agak besar, teman." kata si kucing. "Sabar ya saya akan memotongnya lagi agar ukurannya sama besar" kata si kucing sambil memotong dagingnya untuk disamakan dengan ukuran daging milik si tikus.
Dan lagi-lagi si kucing berbuat curang. Sisa potongan daging tersebut langsung dimakannya juga. Demikian, berkali-kali si kucing berbuat curang di hadapan si tikus. Akibat kecurangan si kucing, akhirnya potongan daging milik si tikus dan si kucing semakin bertambah kecil. Si tikus menyadari bahwa temannya telah berbuat curang kepadanya. Ia diam saja. Ia mulai menyusun siasat untuk menyadarkan perbuatan curang sahabatnya.
Ketika si kucing merasa kehausan setelah berkali-kali makan potongan-potongan daging maka ia minta ijin si tikus untuk mengambil air minum. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh si tikus. Ia segera mengambil cabe rawit, lalu mengoles-oleskan cabe rawit keatas potongan daging milik si kucing. Setelah itu si tikus kembali ke tempat duduk semula sambil menunggu si kucing datang.
"Nah...kini rasa hausku telah hilang," kata si kucing.
"Dan sekarang pembagian daging ini kita lanjutkan yaa...O ya kelihatannya daging bagianku kelihatannya tidak sama dan terlalu besar dibanding dengan milikmu...oke saya potong ya..."
Lalu si kucing segera memotong daging miliknya. Dan seperti kejadian sebelumnya, ia langsung memasukkan potong daging tersebut ke dalam mulutnya. Si kucing tidak sadar bahwa potongan daging miliknya telah diolesi cabe rawit oleh si tikus.
"Wuaahhh aduh...ooooh...aaaah...ooooh...aaaahhh....pedas...pedas......pedas...ada apa dengan daging ini? Ampun..ampun....ampuunnnn....panas.....panasss......" teriak si kucing sambil berlari kesana kemari merasakan mulutnya terasa panas akibat makan potongan daging yang telah diolesi cabe rawit oleh si tikus.
"Hahahahahaha....itulah hukuman bagi sang curang!" teriak si tikus sambil tertawa terbahak-bahak. Lalu si tikus lari sambil meraih sisa potongan daging yang menjadi haknya.
"Alhamdulillah masih bisa menikmati daging walaupun ukurannya semakin kecil," kata si tikus. Si tikus tetap bersyukur karena masih bisa menikmati sisa daging segar yang menjadi haknya. Kemudian, ia berusaha lari sejauh-jauhnya meninggalkan si kucing yang telah melanggar perjanjian persahabatan mereka.
Sebaliknya si kucing terus berteriak-teriak menahan rasa panas di mulutnya akibat makan potongan daging yang telah diolesi cabe rawit oleh si tikus. Ia terus berlari kesana agar rasa panas di mulutnya hilang, namun rasa panas di mulutnya sulit hilang dalam sekejap.
"Awas kamu si tikus...aku akan mencarimu kemana saja kamu lari. Pokoknya aku akan membuat perhitungan dengan kamu!! Aku pasti akan menemukanmu.! Aku berjanji akan selalu mencarimu kemanapun engkau pergi.".
Akhirnya mulai saat itu, si tikus senantiasa menghindar dan berlari menjauh apabila bertemu si kucing. Dan setiap hari, kemanapun si kucing mencari si tikus senantiasa memanggil-manggilnya dengan teriakan :
"MEOOOONG....MEOOOONG...MEOOOONG...MEOOOONG..."
Tamat
Dalam pergaulan mereka selalu bersama-sama, begitu pula dalam hal pembagian makanan. Setiap ada makanan mereka senantiasa membagi sama rata.
Suatu malam, si tikus merasa perutnya lapar. Ia ingin mengajak si kucing untuk mencari makanan. Namun, si tikus kecewa sebab si kucing telah tidur pulas. Ia tidak ingin membangunkannya. Maka si tikus pergi sendirian mencari makanan. Ia berjalan kemana saja. Ia berharap bisa mendapatkan sepotong makanan untuk mengisi perutnya yang lapar.
"Aduuh, kemana lagi aku harus mencari makanan?" kata si tikus. "Hampir sepanjang jalan yang kulalui tidak kutemui sepotong makanan pun....huu..huu..huuuuu."
Si tikus semakin bersedih. Perutnya semakin terasa lapar. Namun ia tidak berputus asa. Dia terus berusaha mendapatkan makanan.
Sejurus kemudian, tiba-tiba si tikus berteriak kegirangan. Dia melihat sepotong daging tergeletak di perempatan jalan.
"Horee...akhirnya aku mendapatkan makanan!" teriak si tikus kegirangan.
"Wah besar sekali ukurannya, bisa untuk jatah makan selama seminggu, nih."
Kemudian ia cepat-cepat menyeret daging itu dan membawanya pulang. Meskipun dengan susah payah, namun si tikus melakukannya dengan penuh gembira. Sehingga rasa capek, lelah dan lapar tidak dirasakannya lagi. Sepanjang jalan ia bernyanyi-nyanyi sambil menyeret sepotong daging.
"Hoiii....Pus...ayo kemari....ada kabar gembira !" teriak si tikus ketika sampai di depan rumahnya. "Hoii...Puuss ...bangun...ada kabar gembira, nih!"
Si kucing terkejut mendengar teriakan si tikus. Ia segera menghampiri temannya.
"Wow...sepotong daging segar...mantab," pikir si kucing. "Kebetulan sudah sebulan aku tidak makan daging. Sekarang aku akan menikmati kelezatannya," pikir si kucing mulai timbul rasa serakahnya.
"Wah...daging segar...terima kasih sahabatku," kata si kucing
"Lho...lho...lho...apa maksudmu dengan ucapan terima kasih itu, Pus?" tanya si tikus.
"Ah tidak...maksudku...terimakasih kamu telah mendapatkan sepotong daging untuk kita makan berdua khan?"
"Iya...kan perjanjian kita seperti itu. Apapun makanan yang kita dapatkan harus kita bagi rata. Benar, khan?" kata si tikus.
"Iya ya...," jawab si kucing sambil terus memperhatikan sepotong daging segar di hadapannya.
"Okey kalau begitu mari kita bagi sama rata ya. Ayo berikan daging itu, Meong...biar aku yang bertugas membaginya."
Kemudian si tikus memberikan daging yang dibawanya kepada si kucing. Dan si kucing berusaha memotong daging di hadapannya sama rata. Setelah daging terpotong menjadi dua, lalu si kucing dan si tikus memperhatikan ukuran dagingnya.
"Wah...ternyata daging bagianmu terlalu besar, Tikus," kata si kucing. "Harus dipotong sedikit nih agar bagian kita sama besar."
Kemudian si kucing memotong daging milik si tikus agar potongan dagingnya sama besar. Namun si kucing bertindak curang, ternyata potongan sisa daging yang dipotongnya tidak ditambahkan ke potongan daging miliknya, namun potongan daging itu langsung dimakannya.
"Waduh...kini daging bagianku yang kelihatannya agak besar, teman." kata si kucing. "Sabar ya saya akan memotongnya lagi agar ukurannya sama besar" kata si kucing sambil memotong dagingnya untuk disamakan dengan ukuran daging milik si tikus.
Dan lagi-lagi si kucing berbuat curang. Sisa potongan daging tersebut langsung dimakannya juga. Demikian, berkali-kali si kucing berbuat curang di hadapan si tikus. Akibat kecurangan si kucing, akhirnya potongan daging milik si tikus dan si kucing semakin bertambah kecil. Si tikus menyadari bahwa temannya telah berbuat curang kepadanya. Ia diam saja. Ia mulai menyusun siasat untuk menyadarkan perbuatan curang sahabatnya.
Ketika si kucing merasa kehausan setelah berkali-kali makan potongan-potongan daging maka ia minta ijin si tikus untuk mengambil air minum. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh si tikus. Ia segera mengambil cabe rawit, lalu mengoles-oleskan cabe rawit keatas potongan daging milik si kucing. Setelah itu si tikus kembali ke tempat duduk semula sambil menunggu si kucing datang.
"Nah...kini rasa hausku telah hilang," kata si kucing.
"Dan sekarang pembagian daging ini kita lanjutkan yaa...O ya kelihatannya daging bagianku kelihatannya tidak sama dan terlalu besar dibanding dengan milikmu...oke saya potong ya..."
Lalu si kucing segera memotong daging miliknya. Dan seperti kejadian sebelumnya, ia langsung memasukkan potong daging tersebut ke dalam mulutnya. Si kucing tidak sadar bahwa potongan daging miliknya telah diolesi cabe rawit oleh si tikus.
"Wuaahhh aduh...ooooh...aaaah...ooooh...aaaahhh....pedas...pedas......pedas...ada apa dengan daging ini? Ampun..ampun....ampuunnnn....panas.....panasss......" teriak si kucing sambil berlari kesana kemari merasakan mulutnya terasa panas akibat makan potongan daging yang telah diolesi cabe rawit oleh si tikus.
"Hahahahahaha....itulah hukuman bagi sang curang!" teriak si tikus sambil tertawa terbahak-bahak. Lalu si tikus lari sambil meraih sisa potongan daging yang menjadi haknya.
"Alhamdulillah masih bisa menikmati daging walaupun ukurannya semakin kecil," kata si tikus. Si tikus tetap bersyukur karena masih bisa menikmati sisa daging segar yang menjadi haknya. Kemudian, ia berusaha lari sejauh-jauhnya meninggalkan si kucing yang telah melanggar perjanjian persahabatan mereka.
Sebaliknya si kucing terus berteriak-teriak menahan rasa panas di mulutnya akibat makan potongan daging yang telah diolesi cabe rawit oleh si tikus. Ia terus berlari kesana agar rasa panas di mulutnya hilang, namun rasa panas di mulutnya sulit hilang dalam sekejap.
"Awas kamu si tikus...aku akan mencarimu kemana saja kamu lari. Pokoknya aku akan membuat perhitungan dengan kamu!! Aku pasti akan menemukanmu.! Aku berjanji akan selalu mencarimu kemanapun engkau pergi.".
Akhirnya mulai saat itu, si tikus senantiasa menghindar dan berlari menjauh apabila bertemu si kucing. Dan setiap hari, kemanapun si kucing mencari si tikus senantiasa memanggil-manggilnya dengan teriakan :
"MEOOOONG....MEOOOONG...MEOOOONG...MEOOOONG..."
Tamat

0 komentar:
Posting Komentar